Thursday, December 1, 2022

Solo, Kota Sederhana Penuh Makna (sebuah cerita mini)

 

Solo, Kota Sederhana Penuh Makna

Karya: Aprilia Ningsih, S.Pd

 

Empat tahun lalu, aku menginjakkan kaki di kota pinggiran yang pada awalnya tak begitu kusuka, namun darinya beratus kisah berawal dan menghadirkan banyak makna. Solo namanya, kota yang terkemuka dengan gaya bahasanya yang pelan dan halus, serabi Solonya yang original tiada dua, dan makanannya yang murah meriah. Aku tak pernah menyangka akan menempatinya selama empat tahun. Semua berawal dari hasil SNMPTNku yang menyatakan aku diterima di program studi PPKn Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Sejujurnya ini bukan kampus pilihan pertamaku dan benar saja bahwa selama tiga bulan aku mengawali kuliah disana diwarnai tangis cengeng hari demi hari. Aku merindukan keluargaku, merindukan kampung halamanku di Kulon Progo yang nyaman, merindukan kasur dan gulingku yang adem dan masih banyak lagi. Namun apa daya aku harus terdampar di tempat yang menurutku antah berantah saat itu.

Aku tidak tahu menahu soal Solo dan bisa dibilang ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Solo. Beruntung tetanggaku memiliki teman yang sedang kuliah di UNS juga, jadi aku bisa ikut ngekos disana. Mbak Pujik, begitu aku memanggilnya, dia begitu sabar dan baik bahkan terlalu baik. Tak jarang aku dan mbak kosku yang lain mengomelinya karena dia begitu baik. Kami sering mengomelinya agar dia sesekali mau berkata “tidak” ketika dimintai bantuan. Tapi sepertinya sulit bagi Mbak Pujik, dia malaikat tak bersayap.

Beberapa hari sebelum masa Orientasi Mahasiswa Baru (Osmaru) dimulai, aku berkeliling di daerah sekitar kosku bersama Mbak Pujik. Kosanku terletak di Jalan Surya tepatnya di Gang Halimun Nomor II tapi karena Mbak Pujik dan yang lain memberitahuku bahwa jalannya hampir tenggelam, maka aku menuliskan di alamatku “Jalan Surya Hampir Tenggelam”, alhasil siapapun yang melihat data diriku pasti meledekku. Aku saat itu, polos sekali rupanya.

Jalanan di belakang kampus lumayan menanjak, ada dua jalan utama menuju area kosan mahasiswa yaitu Jalan Surya dan Jalan Kabut. Pertama, Jalan Kabut, adalah jalan yang sering dilewati mahasiswa berangkat ataupun pulang kuliah sampai sore hari. Namun jalan ini begitu sunyi senyap di malam hari dan justru terkesan sedikit mencekam. Di Jalan Kabut tidak ada minimarket, tidak ada laundry, tidak ada toko cemilan kiloan, tidak ada warnet, dan itu semua yang mungkin membuatnya sepi pengunjung. Yang kedua adalah Jalan Surya, tempat yang tak pernah sepi dari pengunjung. Jalanan ini adalah kebalikan dari Jalan Kabut, suasananya ramai dan begitu hidup bahkan sampai malam hari. Berbagai makanan dan tempat belanja ada disana. Dari kosanku, aku hanya perlu keluar gang dan belok kanan, menaiki jalan menanjak dan mulai melihat keramaian. Disana ada warung angkringan Mas Sam yang sangat terkenal dengan es tehnya yang begitu segar, ada warung makan Aurora yang menunya beraneka ragam, tempat anak kosan mampir untuk makan dengan menu lengkap dan harga murah. Ada oseng kacang panjang, oseng buncis, sayur sop, sayur tempe, tempe goreng, telor balado, ikan pindang, dan banyak pilihan jus buah walaupun aku lebih sering membeli es tehnya hehehe.

Di Jalan Surya terdapat sebuah minimarket yang begitu ramai, namanya minimarket REA, disana ada banyak kebutuhan sehari-hari. REA bagaikan vitamin bagiku karena setiap bulan aku selalu menikmati belanja disana, memilih barang yang kubutuhkan, memilih camilan yang kusuka dan tak lupa membeli beberapa coklat. Hal itu membuatku begitu gembira walau sederhana. Masih banyak tempat-tempat yang penuh dengan kenangan di Solo, di sekitar kampusku yang dikenalkan oleh Mbak Pujik dan aku perlahan mulai membiasakan diri.

Agustus 2012, aku mulai menjalankan Osmaru, bertemu dengan teman-teman baru dan tentunya tempat baru. Kampusku UNS adalah kampus yang bisa kukatakan tidak terlalu megah namun nyaman untuk ditempati. Aku berangkat ke kampus dengan berjalan kaki, melewati trotoar yang dikelilingi gedung-gedung besar. Pertama kupijakkan kaki masuk gerbang belakang, akan kulihat gerbang kokoh bertuliskan “Mangesthi Luhur Ambangun Negara”, slogan UNS yang kucinta. Lurus kedepan, aku melewati masjid kampus, tempat yang adem dan nyaman untuk mampir. Selain untuk sholat, masjid Nurul Huda atau lebih dikenal dengan sebutan NH sangat cocok untuk duduk bersantai, ngobrol dan juga wifian dengan suasana adem ayem. Aku menyukai NH dan segala kesejukan yang ditawarkannya. Disamping NH, berdiri gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berseberangan dengan Medical Center serta Student Center UNS. Lalu untuk menuju gedung tempat kuliahku cukup berjalan sekitar tujuh menit dari gedung UKM. Tempatku kuliah biasa kami sebut dengan istilah gedung C. Untuk usia bangunan, kukira gedung C sudah cukup tua. Kursi coklat kayu besar dan lantai tegel menjadi saksi betapa awetnya gedung C bertahan. Lantai dua, tempat kuliah kami terletak di ujung utara, gedungnya langsung terhubung dengan gedung D, tempat anak MIPA belajar.

Awal aku menjalani masa kuliah tidak begitu antusias hingga kemudian perlahan aku mendapatkan teman dekat, dia adalah Aifa, Erma dan Rini, sahabatku selama di kampus. Kami selalu bersama bahkan hingga wisuda S1. Mereka adalah orang-orang yang dikirim Tuhan untuk menempaku selama di kampus. Alasannya adalah karena mereka bertiga rajinnya luar biasa tidak seperti aku yang ada bibit-bibit pemalasnya. Mereka yang telah banyak menyemangatiku, membuat hariku ceria dan bersedih, membuat hariku berwarna dan tentunya membuat kehidupan kuliahku penuh cerita.

Di belakang kampusku, terdapat warung makan bernama Bhesus yang menyediakan ayam goreng dengan sambel lombok ijo yang tumpah ruah alias boleh ambil sepuasnya. Disana kami sering makan siang dan nongkrong bersama. Aku dan Aifa sering memesan ati goreng, rasanya enak dan gurih, sempurna. Di seberang Bhesus terdapat warung yang menyediakan aneka sosis dan bola ikan yang dibakar. Aku ingat sekali, diantara kami berempat, Aifa yang paling sering membeli sosis bakar hingga suatu hari tidak tahu kenapa, dia mulai keracunan sosis hingga sakit. Momen itu yang akhirnya membuat orang tua Aifa menginap di solo selama seminggu lebih. Lucu dan sekaligus menyedihkan bercampur jadi satu.

Kembali ke dalam UNS, bisa dibilang UNS adalah kampus yang asri karena begitu banyak pohon di dalamnya yang besar dan rindang. Yang paling kusuka adalah deretan pohon Angsana di sepanjang jalanan UNS, pohon Angsana memiliki bunga berwarna kuning cerah yang kecil namun melimpah. Saat musim berbunga tiba, jalanan dan halaman kampus menjadi kuning alami, ditutupi oleh Angsana yang berjatuhan diterpa angin, indah sekali. Saat musim itu tiba, orang-orang akan mengambil foto dan membuat bentuk-bentuk lucu dari kumpulan bunga Angsana. Danau UNS juga ikut menguning dipenuhi bunga diatasnya. Pernah sekali aku berfoto disana dan setelah itu salah seorang temanku menanyakan apakah aku pergi ke Cina atau Jepang, padahal itu adalah kampusku sendiri, di kota Solo, kota yang sederhana dan layak untuk dicintai ini.

Aku selalu kemana-mana dengan berjalan kaki hingga mungkin aku terbiasa berjalan cepat dan bahkan berlari karena terlambat, tapi aku juga kadang berjalan pelan menikmati sekitar, melihat gedung fakultas kedokteran yang begitu teduh dan hijau, melihat halaman gedung fakultas hukum yang dipenuhi mobil beraneka warna, mengamati gedung fakultas sastra yang unik walaupun kadang tak mengerti maksud dari karya seninya, menikmati langkah sepatuku yang terus menapak hingga sampai tujuanku.

Solo memang bukan pilihanku di awal, tapi Solo menjadi tempat terbaik bagiku kemudian. Solo mengajarkanku apa itu bersyukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia walau itu tidak sesuai dengan permintaannya. Solo membuatku besyukur memiliki sahabat sahabat yang ada dan selalu menguatkan saat aku sedih dan bahagia. Kota ini menjadi saksi perjuanganku dalam belajar, mengantri untuk mengeprint tugas di belakang kampus, mengejar bus kampus dengan berlarian, dan mengerjakan apapun dengan mandiri. Yah benar sekali, mandiri karena aku mulai terbiasa mandiri menyiapkan makan, mencuci baju, menyetrika, mengurus diri yang sedang sakit, belajar dan menenangkan diri sendiri. Kota yang sederhana ini selalu mengingatkanku pada hangatnya orang-orang menyapaku dan mulai dekat denganku, memberiku keluarga di perantauan dan rasa nyaman.

Kini, empat tahun sudah aku meninggalkan Solo dan segenap cerita yang menyertainya. Aku dan teman-temanku sama-sama tumbuh dan meniti jalannya masing-masing. Bukan berarti kami berpisah, kami hanya terpisah dan tentu masih bisa bertemu suatu hari nanti. Terima kasih banyak Solo, karenamu aku tumbuh menjadi aku yang lebih baik dan dewasa. I mean, I can’t forget you because you always stay in my heart. Luvv!

No comments:

Post a Comment

Soal PTS Genap (sebuah contoh)

PTS PPKN GENAP IX   1.Untuk mewujudkan persatuan dalam keberagaman, masyarakat Indonesia perlu berpegang kepada prinsip-prinsip persatua...